ayat 41-50
مثل الذين اتخذوا من دون الله أولياء كمثل العنكبوتاتخذت بيتا وإن أوهن البيوت لبيت العنكبوت لو كانوا يعلمون
41. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba bila mereka mengetahui.
إن الله يعلم ما يدعون من دونه من شيء وهو العزيز الحكيم
42. Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah. Dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
Jaring laba-laba selalu terkena panas, dingin, angin, dan hujan. Sebenarnya, jaring itu tidak melindungi sang laba-laba dari apa pun. Fungsi utamanya adalah menangkap serangga lain untuk dimakan oleh laba-laba dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Inilah mekanisme yang paling tidak stabil dan tidak aman. Setiap orang yang meyakini bahwa ia sudah merasa tenang dengan berbagai kebiasaan budayanya, yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, berarti berpegang pada premis yang sama lemahnya dengan jaring laba-laba.
Keterikatan, ketakutan, dan berbagai kebiasaan seseorang sama rapuhnya dengan pikiran yang melahirkannya. Tempat perlindungan terakhir adalah bersama Allah. Manusia berlindung kepada Allah jika ia menemukan pengetahuan tentang Tuhan Yang Mahabenar dengan menyadari bahwa segala sesuatu selain Allah bersifat relatif dan tidak memuaskan-seperti rumah laba-laba; ketika hujan turun, jaring itu akan menjadi berat dan terkoyak.
Dengan berlindung kepada Allah, manusia meninggalkan apa yang relatif dan tidak aman, serta dapat mengarahkan dirinya kepada sumber segala sesuatu. Ia berlindung dari kebodohan dengan pengetahuan tentang Allah. Semakin dekat ia dengan pengetahuan itu, semakin ia menemukan relativitas segala sesuatu. Kemampuan membedakan dan kebijaksanaan memungkinkan dirinya menangani dengan lebih tepat hukum-hukum yang mengatur kehidupan. Ia menemukan bahwa hukum-hukum itu mudah ditangani dan, karenanya, menghadapi kesulitan paling sedikit dalam kehidupan ini.
Cara termudah untuk mengenali hukum-hukum kehidupan itu adalah berusaha keluar dari keterikatan emosional dari apa yang ada dalam jaring seseorang. Jaring adalah segala sesuatu yang ditenun oleh seseorang yang dianggap penting dalam hatinya. Jika ia meninggalkan semuanya itu, maka hatinya akan terbebas dari segala ilusi. Fungsi hati bersifat alami dan sesuai dengan fitrah. Seseorang yang terlalu terikat dengan suatu tempat atau situasi juga akan merasakan bahwa hatinya tampaknya telah diambil darinya dengan paksa. Ini hanyalah imajinasinya belaka.
Sang laba-laba akan meninggalkan jaring yang telah terkoyak dan memintal jaring lainnya tanpa kesulitan. Manusia biasanya duduk dan menangis serta mengutuki nasib buruknya. Akan tetapi, ia dianugerahi fakultas kesadaran tambahan. Dengan fakultas tambahan ini, ia bisa menyadari bahwa ia sedang menderita. la sadar akan kesadarannya. Jika ia tenggelam dalam kesadaran murninya, maka ia pun tinggal bersama Sumber sejati.
Dari berbagai hadis, kita mengetahui bahwa merenung selama satu jam lebih baik ketimbang ibadah tujuh puluh tahun. Merenungkan penciptaan adalah salah satu tindakan paling tinggi yang dapat dilakukan seseorang dalam kehidupan ini. Salat, puasa, dan semua pilar transaksi dalam kehidupan sangatlah bermanfaat sama seperti halnya struktur dan fondasi suatu mmah bermanfaat bagi penghuninya. Tinggal dengan nyaman dalam sebuah rumah merupakan tujuan paling utama yang hanya bisa dicapai dengan renungan yang mendalam. Waktu terbaik bagi seseorang untuk merenung adalah ketika ia telah tersentak, ketika jaring seseorang telah koyak oleh derita berupa hilangnya tempat bergantung.
Dengan mengamati kehidupan para nabi, para Imam, dan wali-wali Allah (awliya '), seseorang akan mengetahui betapa berat penderitaan mereka. Akan tetapi, dalam berbagai kondisi mereka seperti itu, mereka mengetahui kedekatan mereka dengan Allah. Mereka ini dianugerahi rahmat dan kebahagiaan yang besar. Ketika wafat di tempat tidur, Nabi saw. hanya dikelilingi oleh segelintir sahabat. Sebagian besar sahabatnya terlibat dalam perdebatan sengit tentang suksesi. Penderitaan yang dialaminya memang berat. Bagi kaum anggota fakta, bagi orang-orang yang ingin melihat isi segala sesuatu, kondisi batiniah adalah sesuatu yang penting. Apakah ia mengandalkan jaringan rapuh para sahabat ataukah ia tergantung kepada Pencipta jaringan?
وتلك الأمثال نضربها للناس وما يعقلها إلا العالمون
43. Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.
Semakin jauh seseorang menempuh jalan, semakin berat pula penderitaan dan cobaan yang datang dari luar. Inilah jalan-jalan (sunnah) Allah. Tujuan berbagai penderitaan itu adalah membuat manusia hanya bergantung kepada Allah agar, dengan demikian, ia dapat meningkatkan pengetahuannya. Dalam pengertian tertentu, Allah Maha Pencemburu. Allah tidak menginginkan manusia, sekalipun hanya sesekali, untuk berpikiran bahwa ia bisa mengandalkan orang lain. Namun, tatakrama dan sopan santunnya adalah berterima kasih kepada seseorang yang menjadi sarana datangnya bantuan, sambil menyadari bahwa suatu saat orang itu bisa saja menjadi musuhnya. Demikianlah keadaan seorang yang sangat mengenal Allah ( 'arif). Inilah makna paling dalam dari din seseorang. Seluruh praktik lahiriah adalah suatu persiapan bagi pandangan batiniah. Ketika pandangan batiniah sudah tercapai, praktik-praktik lahiriah menjadi refleksi dari kebenaran. Jika aspek batiniahnya benar, maka aspek lahiriahnya pun benar. Jika aspek lahirnya benar, maka aspek batiniahnya pun benar.
"Dan perumpamaan-perumpamaan ini ... dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." Mereka berusaha melihat Allah di balik segala sesuatu. Setiap kali sesuatu mengejawantah, mereka ingin mengetahui akarnya; mereka ingin mengetahui sebabnya dan tidak mau terpesona oleh akibatnya. Umpamanya saja, jika seorang sahabat baik menjadi musuh, maka bisakah Anda cepat-cepat merasa bersyukur? Pikirkan betapa Allah Maha Pengasih sehingga membuat Anda memiliki musuh baru sekarang, dan bukan sepuluh tahun silam. Akan tetapi, jika Anda memandang persahabatan itu sebagai sebuah rumah laba-laba ( 'ankabut), sebagai sebuah tempat yang aman, maka hal itu akan menghancurkan Anda. Sebagai manusia yang berpikiran positif, Anda mengakui kesalahan Anda. Kalau tidak, 'ankabut itu lebih baik dibandingkan Anda. Sebab, ia bisa terus berjalan tanpa menengok ke belakang dan membangun tempat aman baru lainnya, sementara Anda melanjutkan persahabatan dengan luka dan kenangan negatif.
Hukum-hukum Tuhan Yang Mahabenar harus dihayati dan dijadikan sebagai sebuah pola hidup, dan bukan hanya dibicarakan atau ditulis saja. Kepasrahan hanya berarti bagi orang-orang yang memang berserah diri, dan bukan untuk orang-orang yang sekadar membicarakannya saja. Islam diperuntukkan bagi mereka yang berada dalam rumah Islam (dar al-Islam), dan bukan bagi mereka yang mempelajarinya. Jika ia mau-jika ia seorang bijaksana dan berilmu ( 'alim), jika ia memperoleh pengetahuan, maka manusia bisa menyesuaikan diri dengan pola kepasrahan, karena esensinya sudah ada di dalam dirinya.
خلق الله السماوات والأرض بالحق إن في ذلك لآيةللمؤمنين
44. Allah menciptakan langit dan bumi dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman.
"Allah menciptakan langit dan bumi dengan sebenar-benarnya." Ada tanda atau ayat dalam setiap entitas yang diciptakan. Setiap tarikan napas adalah batu pijakan di sepanjang jalan pengetahuan. Sejauh mata memandang, ada sebuah tanda atau ayat yang bisa dipelajari.
اتل ما أوحي إليك من الكتاب وأقم الصلوة إن الصلوةتنهى عن الفحشاء والمنكر ولذكر الله أكبر واللهيعلم ما تصنعون
45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yakni al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yakni al-Kitab (Alquran), ..." Perintah ini berlaku kepada semua orang yang mengikuti jejak Nabi saw. Ambillah pengetahuan yang ada dan terapkan agar mendarah-daging. Kemudian, bergeraklah menuju Allah. Jika seseorang berusaha mengambil lebih dari satu langkah sekali jalan, maka kemungkinan besar ia akan jatuh. Melewatkan satu langkah di jalan itu selalu menjadi kelemahan. Sang pencari harus bergerak dengan apa yang ada di depannya, sambil percaya bahwa itulah yang terbaik baginya. Maka, ia akan beroleh manfaat atau keuntungan dari langkahnya itu, atau kondisi dan gerakannya akan secepat daya serap dan keyakinannya. Salat adalah bukti dan pengakuan atas pengagungan dan rasa syukur akan nikmat dari Sang Pencipta.
"Dan sungguh mengingat Allah itu adalah hal yang terbesar." Dalam kondisi apa pun, manusia memulainya dengan Allahu akbar (Allah Mahabesar). Ini mungkin berada dalam kegembiraan mutlak akan Tuhan Yang Mahabenar ketika sedang rukuk sambil mengucapkan kalimat, Subhana rabbi al-'Azhim wa bihamdih. Dalam kondisi ini, ia melihat di balik kelemahan dan sifat lupanya keagungan Sang Pencipta melalui makhluk-Nya. Ketika berdiri, ia mengucapkan, Allahu akbar.
Selalu adalah Allahu akbar. Tidak peduli apa pun pembukaannya, pastilah Allahu akbar. Allah lebih besar dari apa yang Anda bayangkan. Pengetahuan apa pun yang dimiliki manusia, Allahu akbar, sebab yang demikian itu masih ada dalam samudera pengetahuan Allah. Ingatan Allah kepada manusia lebih besar dari ingatan manusia kepada-Nya. Dan ingatan Allah kepada seorang mukmin lebih besar dari ingatan seorang mukmin kepada Allah- Allahu akbar.
ولا تجادلوا أهل الكتاب إلا بالتي هي أحسن إلا الذين ظلموا منهم وقولوا آمنا بالذي أنزل إليناوأنزل إليكم وإلهنا وإلهكم واحد ونحن له مسلمون
46. Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah, "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri. "
Ayat ini memerintahkan kaum muslim untuk tidak berdebat atau berdiskusi dengan kaum Ahli Kitab, seperti orang-orang Kristen atau Yahudi. Rasulullah saw. menganjurkan agar para pengikutnya tidak mengiyakan atau mengingkari apa yang mereka katakan, karena pesan Alquran pada akhirnya akan menjadi jelas dan mengungguli pengetahuan kaum Kristen dan Yahudi.
Sebuah contoh tentang hal ini adalah kasus sederhana berupa perajaman pezina, yang diperintahkan oleh Nabi Ibrahim as, dilanjutkan oleh Nabi Musa as, dan kemudian oleh Nabi 'Isa as Akan tetapi, dalam hadis-hadis yang otentisitasnya masih diragukan yang ada di kalangan kaum Kristen, Nabi 'Isa as mengampuni dan membebaskan wanita pezina yang dibawa ke hadapannya. Isa bertanya kepada mereka, "Siapa di antara kalian yang suci dan tidak punya dosa?" Ketika tidak ada seorang pun menjawab, Nabi 'Isa pun mengampuni dan membebaskan wanita itu. Alasan Isa membebaskan wanita itu tidaklah lengkap.
Rasulullah saw. dengan tegas menetapkan hukum bahwa harus ada empat orang bersih dan saleh yang benar-benar menyaksikan perbuatan zina itu. Dengan mengakui hukum yang disampaikan oleh Muhammad saw. Sebagai hukum yang sempurna, tidak perlu ada lagi persoalan berkenaan dengan diskusi dan perdebatan. Seorang muslim mengikuti apa yang dianggapnya sebagai hukum yang sempuma dan tertinggi. Yang bisa dilakukannya hanyalah mengatakan bahwa Tuhannya dan Tuhan mereka adalah satu. Dengan menyelami lautan tauhid, ia berharap bahwa mereka akan mengetahui kesempumaan jalan kepasrahan.
Sebuah kitab tidak harus terkandung dalam halaman-halaman. Kaum muslim dan para pencari kebenaran tidak bisa menilai reendah jalan-jalan lain yang tidak memiliki kitab suci atau rasul yang nyata. Yang dimaksud dengan kitab adalah cara bertindak. Dari sudut pandang ini, kaum Buddha bisa dianggap sebagai Ahli Kitab. Sebuah kitab menyingkapkan fakta dari Tuhan Yang Mahabenar dan menunjukkan cara untuk memahaminya. Banyak kebudayaan dunia yang memiliki kitab, seperti masyarakat Cina dan India. Orang-orang Kristen dan Yahudi disebut-sebut dalam Alquran, sementara kaum Buddha dan Tao tidak. Ini disebabkan kaum Kristen dan Yahudi ada pada waktu dan tempat di mana Alquran diturunkan.
Perilaku yang benar kepada orang-orang yang meyakini atau menganut risalah seorang nabi adalah bahwa seseorang harus mendiskusikan segala sesuatunya bersama mereka dengan cara sebaik mungkin. Tidak ada perbedaan antara apa yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. dengan apa yang dibawa oleh para nabi sebelum beliau. Risalahnya adalah satu dan sama. Hanya saja, selebaran itu mungkin terdistorsi atau diabaikan.
Alquran memberitahu orang-orang yang mengikuti berbagai agama dan kitab lainnya bahwa semua jalan adalah satu. Hanya ada satu jalan, dan itu adalah jalan Islam yang berupa kepasrahan tanpa disertai keraguan barang sedikit pun. Dengan meragukan, seseorang tidak bisa mencapai sumber pertanyaan; ia akan selalu berada dalam tingkat mendengarkan pertanyaan dan mengurai kode-kode manifestasi lahiriahnya.
وكذلك أنزلنا إليك الكتاب فالذين آتيناهم الكتابيؤمنون به ومن هؤلاء من يؤمن به وما يجحد بآياتناإلا الكافرون
47. Dan demikian pula Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Alquran). Maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka al-Kitab (Taurat) pun beriman kepadanya (Alquran); dan di antara mereka ada yang beriman kepadanya. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir.
Tahap pertama untuk memperoleh kitab itu adalah menerima secara fisik brosur melalui pendengaran. Dewasa ini, memperoleh kitab adalah mengambil sesuatu yang disebut buku dari perpustakaan, dengan mendapatkan penampilan lahiriah, sebuah risalah lahiriah. Manusia tidak akan mendapatkannya, kecuali bila benih atau esensinya sudah ada di dalam dirinya. Ia akan mengakui pengalaman lahiriah hanya bila ia memiliki kemauan dan kemampuan untuk memahaminya secara batiniah. Jika kemampuan itu tidak ada, tidak peduli suara apa yang ada di luar, maka hal itu tidak akan mempengaruhinya. Jika esensi itu tidak ada dalam segenap fakultas kesadarannya, maka kitab suci atau kitab apa pun tidak akan berarti sama sekali baginya. Manusia harus menyatu dengan risalah.
Orang-orang yang telah diberi kitab itu adalah mereka yang telah menerima brosur dan memahaminya. Mereka telah menyatukan risalah atau ajaran lahiriah dengan refleksi batiniah mereka. Keimanan mereka tidak dapat digoyahkan. Suara lahiriah terkait dengan resonansi batiniah. Risalah lahiriah berhubungan dengan seruan batiniah yang sudah lama tertidur. Risalah lahiriah pun mengaktifkan cahaya batiniah dan membuatnya jelas bagi mereka. Inilah anugerah Allah kepada sifat bawaan atau fitrah mereka. Hal ini sudah ada dalam gen-gen mereka.
Sesudah manusia memahami risalah tauhid, ia akan melihat satu faktor penghubung dalam segala sesuatu dan mengakhiri seluruh kebingungannya. Setelah itu, ia akan selalu menghubungkan sebab dan akibat dalam semua peristiwa yang terjadi. Ia akan merasa puas karena ia memahami makna dalam semua peristiwa. Sang pencari kebenaran-yang sudah merasakan bahwa segala sesuatu yang dilihatnya di luar juga ada dalam dirinya-dibantu sampai ia menemukan fenomena ini dalam setiap aspek kehidupan. Ia menjadi lebih teguh dalam tauhid dan, karenanya, semakin mendekati kebangkitan sejati dalam hatinya.
Sebagian besar orang yang mengatakan bahwa mereka beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad saw. adalah orang-orang mukmin yang penuh harapan. Secara sadar mereka menempatkan diri mereka dalam suatu situasi di mana keimanan sejati sangat mungkin muncul. Mereka mengucapkan: Asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah. Mereka telah menerima hipotesis itu. Buktinya hanya muncul manakala keimanan persis dialami. Jalannya adalah tentang Allah dan tidak ada sesuatu pun bisa mengubahnya. Tujuan penciptaan makhluk adalah beriman. Tidak ada yang salah dengan tindakan dan amal perbuatan di dunia ini, asalkan yang demikian itu tidak menimbulkan keonaran dan justru bisa mendekatkan seseorang pada pengetahuan yang lebih tinggi.
Begitu seseorang mengetahui hukum-hukum yang mengatur ciptaan, maka tidak ada sesuatu pun yang membuatnya terkejut. Tidak ada satu peristiwa pun yang bisa membuatnya bingung, karena esensi "ketenangan jiwa" -yang sudah ada dalam diri manusia- dibawa menuju alam kesadaran. Manusia tidak suka diusik dengan sewenang-wenang dan tidak adil. Hukum-hukum alam sendiri Sesungguhnya merupakan suatu kelanjutan dari aksi dan reaksi. Keduanya saling bereaksi satu sama lain-yang satu menyebabkan yang lain.
Sifat dunia ini senantiasa bergerak dinamis, dan jika Anda tidak mengetahui dasar turunnya wahyu terakhir kepada umat manusia dalam bentuk lengkapnya, maka Anda akan selalu berada dalam keadaan gelisah. Sifat Tuhan Yang Mahabenar yang memancar dalam diri manusia membuatnya ingin abadi, hidup selamanya, dan selalu mandiri. Inilah sifat-sifat Allah. Jika ia bertindak sesuai dengan kapasitasnya, maka bagaimana mungkin ia diselimuti kegelisahan? Sifat dunia dalam pengertian material negatif (dunya) akan selalu terkoyak seperti rumah laba-laba. Tidak ada akhir untuk bangkit dan jatuhnya gerak berbagai peristiwa yang dinamis.
Setiap burung yang terbang ke atas pasti akan turun juga. Setiap orang yang dicintai pasti juga dibenci. Seseorang yang membangun rumah dan keluarga pasti akan kehilangan semuanya itu suatu saat. Jika ia tidak kehilangan semuanya itu sewaktu masih hidup, maka ia akan kehilangan di saat mati-inilah siklusnya. Manusia datang untuk mati. Mengalami kematian dalam kekinian adalah penegasan mutlak dan final dari risalah kepasrahan. Jika manusia pasrah kepadanya secara total, maka ia akan merasa tenang-tenang saja dengan realitas kedua atau sesuatu yang datang dari Tuhan Yang Mahabenar.
Jika manusia tidak pasrah, maka ia akan merasakan kekecewaan dan kemarahan dalam dirinya. Inilah ekspresi ketidaktahuan akan kehidupan. Manusia ingin membuat berbagai aturan di dunia ini. Akan tetapi, karena ia bukan Tuhan, maka ia tidak bisa melakukan hal itu. Din memerintahkan dirinya untuk menghentikan kemarahannya sekarang, karena sifatnya adalah api. Orang tidak sekadar menahan kemarahan untuk ditumpahkannya Berikutnya. Kemarahan ditekan dengan harapan bahwa penyebab dari kemarahan itu dapat direnungkan.
وما كنت تتلو من قبله من كتاب ولا تخطه بيمينك إذا لارتاب المبطلون
48. Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Alquran) sebuah kitab pun dan kamu tidak menulis sebuah kitab dengan tangan kananmu; jika (kamu pernah membaca dan menulis) demikian, maka orang-orang yang mengingkarimu akan benar-benar ragu.
Nabi Muhammad saw. tidak meniru apa pun. Ia tidak bisa membaca apa pun yang diturunkan kepada nabi-nabi lain sebelumnya. Ia adalah seorang anak yatim yang, pada masa awal kehidupannya, sangat peduli dengan kebutuhan eksistensialnya sendiri. Akan tetapi, ia dianugerahi kemampuan untuk membedakan dan segera menyadari bahwa jalan menuju pengetahuan yang ada di sekelilingnya adalah jalan pelanggaran dan kerugian. Karena itu, ia menghindarinya. Kemudian, karena ketulusan hatinya, pohon pengetahuan dalam dirinya pun berbuah dan mampu "memberi makan" selumh orang di dekatnya. Secara lahiriah, ia tidak memiliki akses ke informasi historis dan pengetahuan yang datang sebelum dirinya, tetapi dalam dadanya ia memiliki hati seorang manusia berilmu yang mampu mengambil risalah terakhir nan agung bagi umat manusia.
Mengikuti Nabi Muhammad saw. adalah jalan Islam. Ini adalah jalan yang mumi, mudah, dan langsung, kalau saja manusia tidak membuatnya rumit dengan bersikap sok intelektual. Jika seseorang mengklaim sebagai mengikuti jejak Nabi saw., Maka terserah kepadanya sajalah untuk membersihkan hatinya dari segenap reruntuhan dan membuatnya sanggup menerima apa yang sesuai dengannya, yang akarnya sudah ada dalam fitrahnya. Bimbingan atau tuntunan tidak berasal dari luar. Allah menyelimuti segala sesuatu. Dia Maha Meliputi (al-Muhith) segala sesuatu. Sesuatu dalam hati manusia yang dipandangnya penting adalah sebuah berhala baginya. Membersihkan berhala itu dari hati akan mempermudah tumbuh dan berkembangnya pengetahuan yang orisinal dan bawaan.
بل هو آيات بينات في صدور الذين أوتوا العلم ومايجحد بآياتنا إلا الظالمون
49. Sebenarnya Alquran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.
وقالوا لولا أنزل عليه آيات من ربه قل إنما الآيات عند الله وإنما أنا نذير مبين
50. Dan orang-orang kafir Mekah berkata, "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah, "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata."
Risalah dari Tuhan Yang Mahabenar tampak jelas dalam kalbu orang-orang yang dianugerahi pengetahuan. Setiap orang memiliki potensi untuk dianugerahi pengetahuan ini. Hanya saja, potensi itu harus dipupuk seperti halnya benih. Benih ketidaktahuan bisa tumbuh subur dengan mudah, karena sifat rendah manusia selalu merugi- "sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian" (inna al-insan lafi khusr). Mengetahui bagaimana cara memupuk benih pengetahuan itu agar tumbuh adalah tujuan dari eksistensi manusia. Dan ini datang kepada manusia secara spontan melalui kesediaannya untuk melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah.
Dari ayat diatas kita bisa menyimpulkan bahwa kesabaran dan ketekunan yg dibungkus dengan doa dan takwalah yg bisa menjadikan kehidupan yg kita jalani ini menjadi bahagia dan syahdu dengan sendirinya karna allah swt..
berdoalah untuk doa2 para muslim dimuka bumi ini agar selalu diberi kerahmatan dan keridhoannya..amiin
Dari ayat diatas kita bisa menyimpulkan bahwa kesabaran dan ketekunan yg dibungkus dengan doa dan takwalah yg bisa menjadikan kehidupan yg kita jalani ini menjadi bahagia dan syahdu dengan sendirinya karna allah swt..
berdoalah untuk doa2 para muslim dimuka bumi ini agar selalu diberi kerahmatan dan keridhoannya..amiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar